Kajian Salaf Bogor

Berupaya memahami agama dengan benar

Jalan – jalan Setan

Posted by kajianbogor pada Januari 6, 2013

Setiap yang mau menapaki jalan-jalan surga harus mengerti dan dapat membedakan antara jalan-jalan surga dengan jalan-jalan setan yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam Jahannam. Wal’iyaadzu billah…

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mengingatkan kita bahwa setan adalah musuh yang selalu berusaha mencelakakan kita sebagai musuhnya. Dia memiliki banyak macam cara dan makar dalam hal itu. Karenanya, Allah -Azza wa Jalla- melarang kita agar jangan mengikuti jalan-jalan setan sehingga kita tidak masuk dalam perangkap dan makarnya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ  [البقرة : 208]

“Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqoroh : 208)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

“Maksudnya, amalkanlah segala ketaatan dan jauhilah segala yang diperintahkan oleh setan. Karena, setan itu hanyalah memerintah kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui”. (QS. Al-Baqoroh : 169)

Para pembaca yang budiman, setan tidak memiliki jalan pada diri manusia, kecuali dari tiga arah. Dari jalan inilah setan mampu menguasai manusia di dunia dan mencelakakannya. Jalan-jalan ini perlu kita waspadai agar kita tidak menjadi orang-orang yang merugi.

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah- berkata,

“Setiap orang yang memiliki hati mengetahui bahwa tak ada jalan bagi setan atas dirinya, kecuali dari tiga arah. Pertama: sikap berlebihan dan boros sehingga ia pun melebihi hajatnya. Nah, hajat yang sisa itulah bagian setan dan pintu masuk menuju hati. Sedangkan jalan untuk selamat darinya, memberikan jiwa ini keinginannya secara sempurna berupa makanan, tidur, kelezatan,  dan kelapangan. Kapan saja anda menutup pintu ini, maka tercapailah keamanan dari masuknya musuh dari pintu itu. Kedua: Kelalaian. Karena orang yang berdzikir berada dalam benteng dzikir. Kapan saja ia lalai, maka terbukalah pintu benteng. Akhirnya, musuh akan masuk. Akibatnya, susah baginya untuk mengeluarkan si musuh itu. Ketiga: Memaksakan diri dalam melakukan sesuatu yang tidak penting baginya”. [Lihat Fawa’id Al-Fawa’id (hal. 269), cet. Dar Ibn Al-Jawziy, 1423 H]

Pintu dan jalan pertama adalah sikap boros dan berlebihan. Allah memerintahkan untuk menutup pintu ini dalam firman-Nya,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِين [الأعراف : 31]

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raaf : 31)

 Jadi, janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

Pintu kedua, sikap lalai dari mengingat Allah -Azza wa Jalla-. Kelalaian ini muncul akibat pengaruh setan yang selalu memalingkan dirinya dari dzikrullah (mengingat Allah). Tujuan kita disini untuk menjelaskan bahwa Allah -Azza wa Jalla- sungguh telah memberikan pertolongan kepada hamba di dalam kehidupan dunia dengan adanya tentara-tentara, batuan, senjata, perisai dan segala yang dibutuhkan oleh hamba dalam menghadapi setan sebagai musuhnya, sehingga ia dapat menjaga dirinya dari musuh dan tahu caranya meloloskan diri bila ia ditawan. [Lihat Al-Wabil Ash-Shoyyib (hal. 24)]

Nabi Yahya bin Zakariyya –alaihish sholatu was salam- bersabda,

وأمركم أن تذكروا الله تعالى فإن مثل ذلك كمثل رجل خرج العدو في أثره سراعا حتى إذا أتى على حصن حصين فأحرز نفسه منهم كذلك العبد لا يحرز نفسه من الشيطان إلا بذكر الله تعالى

“Allah memerintahkan kalian untuk mengingat Allah -Ta’ala-. Karena, perumpamaan dzikrullah (mengingat Allah) seperti perumpamaan seseorang yang musuh keluar membuntuti di belakangnya dengan cepat sampai bila ia mendatangi benteng yang kokoh, maka ia pun membentengi dirinya dari para musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidaklah melindungi dirinya  dari setan, kecuali dengan dzikrullah -Ta’ala-”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2864). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 3694)]

Jalan dan pintu ketiga adalah seseorang memaksakan diri dalam melakukan sesuatu yang tidak penting baginya. Jika seseorang mau mendapatkan kebahagiaan dan bebas dari jerat setan, maka hendaknya ia melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi akhiratnya, atau minimal sesuatu yang bermanfaat bagi dunianya berupa perkara yang halal dalam agama.

Sebaliknya jika ia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dunianya, apalagi akhiratnya, maka inilah yang membantu setan dalam menjauhkan dirinya dari jalan-jalan surga. Dia pun sibuk dengan perkara-perkara yang kurang bermanfaat, bahkan terkadang merugikan akhiratnya jika ia sering melakukannya.

Sumber : http://pesantren-alihsan.org/jalan-jalan-setan.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: