Kajian Salaf Bogor

Berupaya memahami agama dengan benar

Demi Sebuah Kursi Kedudukan

Posted by kajianbogor pada Mei 19, 2016

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ الله ِn: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2482) melalui jalan Suwaid bin Nashr, dari Abdullah bin Al-Mubarak, dari Zakariya bin Abi Zaidah, dari Muhammad bin Abdirrahman, dari Ibn Ka’b bin Malik, dari ayahnya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, ”Hadits ini diriwayatkan melalui jalan lain dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya dari hadits Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Usamah bin Zaid, Abu Sa’id, dan ‘Ashim bin ‘Adi Al-Anshariradhiallahu ‘anhum.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah (3/456).

Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad (2/178) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalamShahihul Jami’ (no. 5620).

Al-Qadhi rahimahullah menerangkan, hadits ini shahih dan sangat masyhur. Kami memperoleh hadits ini lebih dari satu jalur periwayatan. Secara umum, pada lafadz hadits terdapat perbedaan kata namun bermakna sama.

 

Makna Hadits

Makna hadits ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena, ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah. Sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat. Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapapun.

Adapun kedudukan, cukuplah sebagai bukti kerusakannya bahwa harta dikorbankan untuk meraih kedudukan. Sementara kedudukan tidak mungkin dikorbankan hanya untuk mendapatkan harta. Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi (syirik yang tersamar). Dia tenggelam di dalam sikap oportunis, merelakan prinsipnya hilang, kenifakan, dan seluruh akhlak tercela. Maka, ambisi terhadap kedudukan lebih merusak dan lebih merusak. (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (di dalam hadits ini) mengabarkan bahwa ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang. Kerusakannya tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala terhadap sekawanan kambing. Agama seorang hamba tidak akan selamat bila ia memiliki ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan, hanya sedikit yang dapat selamat. Perumpamaan yang teramat agung ini memberikan pesan untuk benar-benar waspada dari keburukan ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Ambisi seseorang terhadap kedudukan tentu lebih berbahaya dibandingkan ambisinya terhadap harta. Karena usaha untuk mendapatkan kedudukan duniawi, derajat tinggi, kekuasaan atas orang lain, dan kepemimpinan di atas muka bumi, lebih besar mudaratnya dibandingkan usaha mencari harta. Sungguh besar mudaratnya. Bersikap zuhud dalam hal ini begitu sulit.” (Syarh Ibnu Rajab)

 

Menjaga Agama Adalah Cita-cita Mulia

Di dalam hadits ini terdapat faedah yang mengingatkan kita bahwa perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.

 

Apakah Hanya Karena Sebuah Kedudukan Kita Menjatuhkan Diri Dalam Jurang Kehancuran?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat Islam untuk meniru akhlak tercela kalangan Yahudi. Karena meniru akhlak tercela mereka akan berakhir dengan kehancuran dan celaka. Di antara sekian banyak tingkah laku Yahudi yang harus dijauhi adalah ambisi untuk mendapatkan kedudukan. Apakah pantas seorang muslim mengaku memperjuangkan Islam, sementara cara yang digunakan adalah cara-cara Yahudi? Dengan berebut kursi, meraih suara terbanyak, ingin tampil ke depan, hendak memimpin, menduduki kursi-kursi kedudukan, dan menjadi seorang penguasa? Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah ketika menjelaskan ayat di atas menyatakan, “Telah dibuat indah untuk manusia sifat tertariknya mereka terhadap wanita dan anak keturunan serta segala hal yang disebutkan. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal ini hanyalah untuk menjelaskan sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka lebih mengutamakan dunia dan ambisi terhadap kekuasaan dibandingkan harus mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka telah mengetahui kebenarannya.” (Tafsir Ath-Thabari)

 

Ambisi Untuk Berkuasa Pasti Disertai Sikap Menjelekkan Orang Lain

Adapun orang-orang yang berambisi untuk meraih tampuk kekuasaan, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, mereka mengejar kekuasaan untuk melampiaskan seluruh keinginan. Yaitu berkuasa di muka bumi, agar seluruh hati mengarah dan cenderung kepada mereka, serta membantu mereka di dalam mewujudkan keinginan. Dalam keadaan merekalah yang menguasai dan mengatur. Sehingga ambisi untuk meraih kekuasaan hanya akan melahirkan kerusakan-kerusakan yang tidak mungkin diketahui secara pasti jumlahnya kecuali oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan muncul dosa, hasad, perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, dengki, kezaliman, fitnah, fanatik pribadi, tanpa memedulikan lagi hak Allah Subhanahu wa ta’ala. Orang yang terhina di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala akan dimuliakan sementara orang yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala pasti dihina. Kekuasaan duniawi tidak mungkin sempurna kecuali dengan cara-cara kotor seperti tersebut di atas. Kekuasaan duniawi tidak akan tercapai kecuali dengan menempuh langkah-langkah yang penuh dengan mafsadah, bahkan berkali-kali lipat. Sementara orang-orang yang telah meraih kekuasaan amatlah buta dengan hal-hal ini. (Ar-Ruh, Ibnul Qayyim rahimahullah)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang pun yang memiliki ambisi untuk mendapatkan kekuasaan melainkan ia pasti senang menyebutkan kekurangan dan cela orang lain, sehingga dialah yang dikenal sebagai orang sempurna. Dia pun tidak senang apabila ada yang menyebutkan kebaikan orang lain. Barangsiapa gila kekuasaan maka ucapkan ‘selamat berpisah’ dari kebaikan-kebaikannya.”

 

Ambisi Untuk Meraih Kekuasaan Akan Merusak Ilmu

Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah menjelaskan bahwa penyakit yang akan merusak alim ulama adalah ambisi untuk meraih kekuasaan. (‘Aja’ib Al-Atsar)

Al-Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, “Cinta kekuasaan lebih disenangi orang dibandingkan emas dan perak. Barangsiapa berambisi memperoleh kekuasaan ia akan mencari-cari aib orang lain.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih)

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Kekuasaan lebih disenangi oleh ahli qira’ah dibandingkan emas merah.” (Al-Wara’, Al-Imam Ahmad hal. 91)

Ibnu ‘Abdus rahimahullah berkata, “Setiap kali bertambah kemuliaan seorang alim dan bertambah tinggi derajatnya, maka semakin cepat dia merasa ujub. Kecuali orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan taufiq-Nya dan membuang ambisi terhadap kekuasaan dari dirinya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlih 1/142, Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah)

“Ilmu hadits adalah disiplin ilmu yang mulia. Yang sesuai untuk ilmu ini hanyalah akhlak mulia dan perilaku yang terpuji. Ilmu ini akan menghilangkan akhlak buruk dan perilaku tercela. Ilmu hadits adalah ilmu akhirat, bukan ilmu dunia. Barangsiapa yang ingin mendengarkan periwayatan hadits atau ingin menyampaikan ilmu hadits, hendaknya ia berupaya meluruskan dan mengikhlaskan niat. Dia pun harus membersihkan hatinya dari tujuan-tujuan duniawi dan segenap noda-nodanya. Dia pun harus berhati-hati dari penyakit dan kotoran dari ambisi terhadap kekuasaan.” (Muqaddimah Ibnu Shalah)

Salah satu hal yang membedakan antara ulama dunia dan ulama akhirat, ulama dunia senantiasa memerhatikan kekuasaan. Senang akan pujian dan massa. Sementara ulama akhirat menjauhi hal tersebut. Mereka benar-benar menjaga diri dari hal itu dan menyayangkan orang-orang yang terkena penyakit tersebut.

Namun dikarenakan telah terbiasa dan memiliki ambisi mendapatkan kedudukan, telah menguasai pemikiran mereka. Tinggallah ilmu hanya terucap melalui lisan sebagai sebuah adat, bukan untuk diamalkan. (Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi rahimahullah)

 

Ambisi Untuk Meraih Kekuasaan Akan Merusak Realisasi Cinta Kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Seringkali syahwat khafiyyah (tersembunyi) yang masuk pada diri seseorang dapat merusak realisasi cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Merusak pula penghambaan dan keikhlasan di dalam beragama. Sebagaimana pernyataan Syaddad bin Aus rahimahullah, ”Wahai sekalian sisa-sisa orang Arab. Sesungguhnya yang paling aku cemaskan bila menimpa kalian adalah riya’ dan syahwat khafiyyah.”

Ketika ditanya tentang makna syahwat khafiyyah, Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani rahimahullah menjawab, “Syahwat khafiyyah adalah ambisi terhadap kekuasaan.”

Hadits ini menjelaskan bahwa keyakinan yang benar tentu tidak akan membawa dirinya untuk berambisi semacam ini. Karena bila hati telah merasakan manisnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, merasakan manisnya mahabbah kepada AllahSubhanahu wa ta’ala, tentu tidak ada lagi yang lebih ia cintai selain itu sampai ia menemui-Nya. Dengan sebab inilah, keburukan dan kekejian akan dijauhkan dari orang yang benar-benar ikhlas kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’alaberfirman:

كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)

[Al-‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah]

 

Termasuk Golongan Manakah Kita?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ambisi seorang hamba untuk memperoleh harta dan kekuasaan akan merusak agamanya. Seperti halnya atau bahkan lebih parah dibandingkan dua ekor serigala yang dibiarkan bebas di tengah-tengah kawanan kambing. Sungguh, Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan keadaan orang yang mendapatkan catatan amal dengan tangan kirinya. Dia Subhanahu wa ta’ala menyatakan:

مَآ أَغْنَىٰ عَنِّى مَالِيَهْ. هَلَكَ عَنِّى سُلْطَٰنِيَهْ

“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.” (Al-Haqqah: 28-29)

Akhir kehidupan seseorang yang haus akan kekuasaan hanyalah seperti Fir’aun. Adapun para penumpuk harta, akhir kehidupannya hanyalah seperti Qarun. Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberitakan keadaan Fir’aun dan Qarun di dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ كَانُوا۟ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا۟ هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةًۭ وَءَاثَارًۭا فِى ٱلْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ ٱللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن وَاقٍۢ

 “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memerhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.” (Ghafir: 21)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

 

Sesungguhnya manusia ada empat macam.

Pertama, orang-orang yang menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi, yaitu dengan durhaka kepada AllahSubhanahu wa ta’ala. Mereka adalah para raja dan penguasa yang selalu berbuat kejahatan seperti Fir’aun dan pengikutnya. Mereka adalah makhluk yang paling buruk. Allah Azza wa jalla berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk Al-Jannah seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat semut kecil. Dan tidak akan masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya keimanan seberat semut kecil.” Kemudian ada orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa senang bila pakaian dan sandalku bagus. Apakah hal ini termasuk dari kesombongan?” Rasulullah menjawab, “Tidak, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Indah, Dia senang dengan keindahan. Sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Sikap menolak kebenaran dan merendahkan orang lain adalah sikap orang yang menginginkan kekuasaan dan kerusakan.

Kedua, orang-orang yang menghendaki kerusakan tanpa disertai keinginan untuk berkuasa. Seperti para pencuri dan penjahat dari kalangan orang-orang rendahan.

Ketiga, orang-orang yang menginginkan kekuasaan tanpa disertai kerusakan. Sebagaimana halnya orang yang memiliki agama namun ingin menguasai yang lain.

Keempat, para penduduk Al-Jannah. Yaitu orang-orang yang tidak menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi. Padahal mereka lebih mulia kedudukannya dibanding yang lain.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 35)

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

Alangkah banyak orang yang mengharapkan kekuasaan padahal justru membuat dirinya semakin terhina. Betapa banyak orang yang diangkat kedudukannya padahal dirinya tidak berharap kekuasaan dan kerusakan. (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah)

 

Ulama Islam dan Kedudukan

Kepada mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam. Kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam. Apakah mereka lebih baik dari Salaf, generasi pertama umat Islam? Apakah mereka tidak membaca biografi para ulama? Perhatikanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu dalam riwayat Muslim rahimahullah:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لاَ تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena sesungguhnya bila engkau memperoleh kepemimpinan karena permintaanmu maka engkau akan dibiarkan. Dan jika engkau memperolehnya tanpa dasar permintaan engkau akan dibantu.” (Silakan merujuk majalah Asy Syariah Vol I/No. 06/Maret 2004/Muharram 1425 untuk keterangan lebih lengkap tentang hadits ini, dengan tema Hukum Meminta Jabatan)

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lam An-Nubala’ menyebutkan banyak kisah menakjubkan dari sisi-sisi kehidupan para ulama. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang berusaha menjauhkan diri dari kedudukan dan kekuasaan. Berikut ini beberapa contoh yang dapat diambil ibrahnya.

– Manshur bin Al-Mu’tamir As-Sulami rahimahullah menolak untuk diangkat sebagai seorang qadhi. Maka dikirimlah serombongan pasukan untuk memaksanya. Kepada Yusuf bin ‘Umar, komandan pasukan tersebut, dikatakan, ”Walaupun engkau koyak kulit tubuhnya, dia tidak akan mau untuk menerima tawaran tersebut.” Maka, Manshur pun ditinggalkan.

– Abu Qilabah Al-Jarmi rahimahullah, salah seorang tabi’in, lari meninggalkan negerinya dari Bashrah hingga daerah Yamamah dan meninggal di sana. Beliau lari untuk menghindari tawaran menjadi seorang qadhi. Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah pernah menemuinya dan bertanya tentang alasan beliau untuk lari menghindar. Maka Abu Qilabah menjawab, “Aku tidak melihat sebuah perumpamaan yang tepat untuk seorang qadhi kecuali seseorang yang tercebur di dalam lautan yang luas, hingga kapan dia akan mampu berenang? Pasti dia akan tenggelam.”

– Abdullah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyi rahimahullah ketika menolak untuk diangkat menjadi seorang qadhi, beliau berkata kepada seseorang yang menanyakan sebab penolakannya, “Apakah engkau tidak mengerti bahwa para ulama akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama para nabi? Sementara para qadhi akan dikumpulkan bersama para penguasa?”

– Al-Mughirah bin Abdillah Al-Yasykuri rahimahullah menolak permintaan Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menjadi seorang qadhi. Beliau beralasan, Sungguh demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku lebih memilih dicekik oleh setan daripada harus memegang kedudukan qadha’. Ar-Rasyid lalu berkata, “Tidak ada lagi keinginan selain itu.” Kemudian Harun Ar-Rasyid pun mengabulkan permintaannya.

– Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Amirul Mukminin memaksa Sufyan Ats-Tsauri untuk memegang kedudukan al-qadha’ (yakni menjadi qadhi). Maka, Sufyan pun berpura-pura menjadi orang bodoh agar terbebas. Setelah Amirul Mukminin mengetahui hal tersebut, maka Sufyan pun dibebaskan lalu ia melarikan diri.”

Marilah kita membaca biografi para ulama yang lain, seperti Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Abu ‘Amr Abdurrahman bin ‘Amr Al-Auza’i, Muhammad bin Wasi’ bin Jabir Al-Akhnas, Abu Sufyan Waki’ ibn Al-Jarrah Al-Kufi, Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, Abu Ya’la Mu’alla bin Manshur Ar-Razi, Abdullah bin Idris bin Yazid Al-Kufi, dan yang lain. Mereka berusaha menjauhi kursi kedudukan. Benar-benar mengagumkan.

Apabila demikian sikap para ulama Islam, maka apakah mereka yang berebut kursi dan mencari suara terbanyak dapat dikatakan sedang memperjuangkan Islam? Dusta dan sungguh dusta lisan mereka. Mungkin terbersit dalam benak, jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting maka Islam akan diinjak-injak? Maka, jawabnya ada pada pendirian seorang Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Disebutkan dalam Mihnatul Imam Ahmad (hal. 70-72) beliau berkata, ”Sungguh, sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi! Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan membela agama-Nya. Sesungguhnya ajaran Islam ini memilki Rabb yang akan menolongnya. Dan sesungguhnya dienul Islam ini sangat kuat dan kokoh.”

Wallahu a’lam.

 

Sumber : asysyariah.com

Iklan

Posted in Artikel Islam Ilmiyah | 2 Comments »

Bagaimana Syiah di Indonesia ?

Posted by kajianbogor pada Mei 16, 2016

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Rafidhah (Syiah) adalah kelompok yang tidak memiliki andil apa pun selain menghancurkan Islam, memutuskan ikatannya, dan merusak kaidah-kaidahnya.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah)

Sejarah telah mencatat bahwa kelompok Syiah begitu fanatik kepada Persia yang memusuhi bangsa Arab. Oleh karena itu, sangat besar kebencian mereka kepada sahabat Umar Ibnu Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahannya negara Persia itu ditaklukkan. Bahkan, hingga hari ini Syiah selalu merayakan hari-hari besar yang merupakan budaya Persia, seperti Norouz atau Nowruz.

Kelompok Syiah telah banyak merugikan Islam. Mereka benci luar biasa kepada Ahlus Sunnah. Cukuplah menjadi bukti dan diketahui bahwa tiga ratus ribu jiwa dari kalangan Ahlus Sunnah yang ada di Teheran, ibukota Iran, tidak memiliki satu pun masjid.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya penyebab utama fitnah (kejelekan) dan bencana itu adalah Syiah dan yang bergabung bersamanya. Mayoritas pedang yang terhunus di dalam (sejarah) Islam adalah dari arah mereka. Kezindiqan (kemunafikan) telah menyelimuti mereka. Kelompok Syiah memberikan loyalitas kepada musuh agama ini—musuh agama yang diketahui oleh setiap orang—yaitu Yahudi, Nasrani, dan musyrikin. Mereka malah memusuhi wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala, orang-orang pilihan yang menganut agama ini dan orang-orang yang bertakwa….

Selain itu, kelompok Syiah mempunyai andil besar ketika dahulu orang-orang Nasrani menguasai Baitul Maqdis, hingga akhirnya kaum muslimin dapat meraihnya kembali.” (Minhajus Sunnah)

Demi menguatkan eksistensinya di tengah-tengah kaum muslimin, dan agar dianggap sebagai salah satu mazhab yang diterima di dalam Islam, Syiah melakukan berbagai makar dan tipu daya. Salah satunya adalah dengan membuka kesempatan bagi para pemuda untuk melanjutkan studinya ke Qum, Iran. Bahkan, Pemerintah Iran menyediakan beasiswa untuk pelajar Indonesia.

Pada 15 April 2005, website nuonline.com memberitakan bahwa Pemerintah Iran menawarkan beasiswa kepada NU. Bahkan, telah ada MoU ilegal yang ditandatangani oleh oknum petinggi NU. Namun, alhamdulillah, pada 2011 Dewan Syuriah PBNU membatalkan MoU itu dengan alasan tidak ada izin dari Dewan Syuriah terlebih dahulu.

Selain pemberian beasiswa, ada beberapa trik dan strategi yang dijalankan dalam dakwah Syiah di Indonesia, antara lain:

 

  1. Mengedepankan tema persatuan atau ukhuwah Islamiah.

Dalam kajian-kajian, taklim, buku-buku, dan orasi, Syiah selalu tidak meninggalkan tema ini. Haidar Bagir misalnya, salah seorang pentolan Syiah, pendiri penerbitan buku Syiah (Mizan), menulis tanggapan terhadap orang-orang yang mengkritik Syiah di Indonesia, “Orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.” (http://insistnet.com/menagih-janji-kaum-Syiah/, diakses pada tanggal 03 Maret 2014)

Agar perkembangan Syiah berjalan mulus, Husein al-Habsyi juga ikut mengampanyekan kerukunan umat. Ketika ditanya oleh seorang mahasiswa di Yogyakarta, Husein pernah mengatakan, “Menjawab pertanyaan saudara ini, saya kira mengafirkan sesama muslim, bukan saja tidak dibenarkan oleh syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi juga tidak pantas dan tidak menguntungkan, baik di pihak Syi’ah maupun Ahlus Sunnah, bahkan bisa melemahkan keduanya. Siapa di antara kita kaum muslimin—apalagi saudara mahasiswa ini—yang belum mendengar tentang kristenisasi yang galak dan dahsyat seperti sekarang ini. Mereka sebelum ini sudah bersatu dan segala aliran; Katolik, Protestan, Advent, ditambah dengan kaum musyrikin, Zionis dan Yahudi, mereka semua sudah bersatu, sedangkan kaum Nasrani bergabung dan satu dewan gereja….”

Husein juga mengatakan, “Sedangkan kita—maaf—secara tidak sadar membantu mereka mengeluarkan saudara-saudara dan generasi kita yang sekarang ini dari umat dan agama Islam. Jadi, mereka akan mudah mengkristenkan kita, sedangkan kita mengkafirkan saudara kita sendiri. Adakah fanatisme yang lebih berat daripada ini? Kita sekarang ini tidak perlu Syiah atau Sunnah menjadi bahan gaduh di antara kita, kaum muslimin. Kita perlu Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan al-Hadits diterapkan pada diri kita. Kita memerlukan ukhuwah, memerlukan pengumpulan dana, serta seluruh masyarakat dan organinasi Islam untuk menebus jutaan pemuda muslim yang sekarang di ambang pintu Nasrani untuk dikristenkan.”

 

  1. Menampilkan pustaka atau tokoh Syiah dengan wajah Sunni.

Prof. Dr. Muhammad Baharun menulis, kitab-kitab seperti Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, dan al-Bayan fi al-Akhbar Shaib al-Zaman oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji,Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syiah. Pengarangnya mengaku Sunni agar bukunya dapat diakses oleh pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kerap kali dijumpai, pengikut Syiah menolak mengaku sebagai Syi’i. Akan tetapi, terkadang mereka lebih suka disebut pengikut mazhab Ahlu Bait daripada pengikut Syiah. Beberapa acara publik terkadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas, namun diminta untuk berbicara tentang ukhuwah Sunnah-Syiah. Hal ini adalah taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syiah yang sesungguhnya.

 

  1. Memberikan imej netral dan melakukan pendekatan.

Hal ini dilakukan di antaranya melalui pendekatan akhlak, memberi jasa bantuan dana, serta janji-janji kerjasama apabila umat bersedia bergabung ke dalam institusi tertentu. Kini Syiah menggerakkan dunia pendidikan, menyediakan dan menyelenggarakan training-training metode pendidikan. Dengan dukungan aktivis liberal, digulirkan wacana Syiah dan Ahlus Sunnah sama-sama, tidak boleh menyalahkan Syiah. Wacana yang dikedepankan adalah Syiah itu sama-sama muslim. Perbedaan antara Syiah dan Ahlus Sunnah sebatas perbedaan ijtihad politik.

Ketika muncul pro-kontra terkait berdirinya Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia pada 17 Juli 2011, Jalaluddin Rakhmat mengatakan, “Masalah ajaran itu masing-masing. Lakum dinukum wa liya din, bagimu agamamu bagiku agamaku. Ingat menjalin ukhuwah Islamiah adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an.”

Dalam kesempatan lain, ia mengatakan, “Bila ada yang pro, syukurilah. Kalau ada yang kontra, jangan jawab dengan permusuhan, namun dengan amal shalih.” (http://news.detik.com/read/2011/07/17/172951/1682998/486/1/majelis-sunni-Syiah-dideklarasikan-di-jawa-barat)

 

  1. Mengampanyekan keterbukaan pemikiran.

Suatu hari, Jalaluddin Rakhmat pernah ditanya tentang filosofi di balik berdirinya Yayasan Muthahhari, yayasan yang menaungi SMU Plus Muthahhari, Bandung.

Waktu itu ia menjawab, “Yayasan Muthahhari tidak didirikan untuk menyebarkan Syiah dan sampai sekarang lembaga ini tidak menyebarkan Syiah. Di situ ada SMU. Mereka belajar fikih empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Mereka tidak mempelajari fikih Syiah secara khusus. Dari Muthahhari juga keluar jurnal al-Hikmah, yang banyak menerjemahkan pikiran-pikiran Syi’ah. Tetapi, sekali lagi hanya bersifat pemikiran saja, fikihnya tidak ada. Belakangan al-Hikmah sedikit menampilkan pemikiran Syiah. Malah lebih banyak menampilkan pemikiran-pemikiran kalangan orientalis. Sehingga Yayasan Muthahhari, dengan melihat isial-Hikmah seperti itu, layaklah disebut sebagai ‘agen zionisme Barat’.

Jadi, mungkin lebih layak Muthahhari ketimbang Paramadina atau Ulumul Qur’an. Jadi, itu yang pertama: Muthahhari tidak didirikan untuk menjadi markas Syi’ah. Lalu, kalau begitu, mengapa diambil nama Muthahhari? Itu karena tiga pertimbangan.

Pertama, Muthahhari itu seorang pemikir Syiah yang sangat non-sectarian, yang sangat terbuka. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Ia tidak pernah menyerang Sunni. Ia lebih banyak belajar dari Sunni. Karena itu, kita ambil tokoh Muthahhari sebagai tokoh yang bersikap non-sectarian, terbuka terhadap berbagai pemikiran, bukan karena Syi’ahnya.

Kedua, Muthahhari itu orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tetapi setidak-tidaknya cukup well informed tentang khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotomi antara intelektual dan ulama. Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syi’ah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dan tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.”

 

5 . Mendekati NU dan Muhammadiyah sebagai backing.

Di Bandung, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu menolak MUI mengeluarkan fatwa sesat Syiah. Sebuah website Syiah pernah memuat berita berikut, “Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Muthi, menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Menurut dia, fatwa sesat dari MUI di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, terbukti menjadi alat melegitimasikan kekerasan terhadap pengikut Syiah dan memicu konflik horizontal antar umat Islam. ‘Fatwa dari mana pun harus tidak untuk mengkafirkan dan menyesatkan,’ ujar Muthi kepada Tempo, Kamis, 19 Desember 2013.

Muthi menanggapi desakan sebagian pihak yang mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Syiah di Yogyakarta. Pihak tersebut mengklaim telah mencatat 10 organisasi berhaluan Syiah di DIY.

Menurut Muthi, fatwa sesat itu berpotensi besar menimbulkan persoalan kebangsaan serius di Indonesia. Lembaga seperti MUI di daerah mana pun sebaiknya tidak lagi mengeluarkan fatwa penyesatan, khususnya untuk Syiah. Alasannya, hal itu memperbesar konflik antar umat Islam. ‘Umat Islam sudah mengalami banyak situasi sulit dan persoalan, jangan ditambah dengan masalah-masalah seperti ini,’ ujar dia. Dia menyarankan MUI Pusat maupun daerah menghindari fatwa semacam pengadil kebenaran atau kesesatan akidah dan keyakinan setiap kelompok umat Islam mana pun.

Sebaliknya, dia menambahkan, MUI mengambil posisi tegas untuk memediasi perbedaan dan pertentangan pendapat antarorganisasi Islam di Indonesia. ‘MUI harus berperan sebagai pemersatu umat Islam,’ kata Muthi. Muthi tidak sepakat dengan pendapat pihak tersebut mengenai salah satu alasan desakannya, yakni buku terbitan MUI Pusat yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Menurut dia, buku itu keluar justru sebagai pernyataan sikap MUI Pusat untuk menolak memberikan fatwa penyesatan ke Syiah Indonesia. ‘Umat Islam harus bisa memberikan sumbangan konstruktif untuk Indonesia,’ kata dia.

Sikap serupa muncul dari Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH. Asyhari Abta, menyatakan MUI DIY tidak perlu menggubris permintaan pihak tersebut.

Kiai dari Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta ini menganggap fatwa sesat malah bisa memicu konflik antarkelompok berbeda paham agama. “Bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antarkelompok,” ujar dia.

Asyhari mengatakan, sekalipun MUI DIY menemukan ada indikasi penyimpangan upaya maksimal hanya perlu dilakukan dengan dialog dan nasihat. Penyesatan pada ajaran malah bisa mendorong tudingan sesat ke kelompok-kelompok lain. “Sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala,” ujar dia.

Segala trik, makar, dan tipudaya Syiah ini tentu tidak lepas dari keyakinan para penganut Syiah tentang taqiyyah. Mereka meyakini bahwa sembilan puluh persen persoalan agama ini ada dalam taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa yang tidak ber-taqiyyah.Taqiyyah itu dalam segala sesuatu kecuali yang berhubungan dengan minuman anggur dan mengusap dua khuf.

Al-Kulaini dalam Ushulul Kafi—sebuah kitab hadits milik Syiah—mengutip riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata, “Jagalah agama kalian dan halangi diri kalian dengan taqiyyah, karena tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyyah.” (Ushul al-Kafi, hlm. 482—483)

Taqiyyah sendiri bermakna mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diyakini dengan tujuan menjaga bahaya yang mengancam diri dan harta atau demi menjaga kemuliaan. (asy-Syi’ah fi al-Mizan, hlm. 47)

Bahkan, Syiah mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan taqiyyah ketika meninggalnya Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafikin. Syiah mengklaim bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menyalati jenazahnya, lalu Umar berkata, “Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah melarangmu untuk berdiri di kuburan orang munafik ini?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Celaka kau, Umar, apa kamu tahu apa yang aku ucapkan? Sesungguhnya aku katakan, ‘Ya Allah, nyalakanlah api di bagian perutnya, penuhilah kuburannya dengan api dan bagian dinding-dindingnya dengan api’.” (Furu’ al-Kafi, Kitabul Jana’iz, hlm. 188)

Lihatlah, bagaimana lancangnya dan beraninya Syiah melakukan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Intinya, Syiah menganggap bahwa taqiyyah adalah kewajiban, ajaran Syiah tidak akan tegak kecuali dengannya. Mereka menjadikan taqiyyah sebagai fondasinya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka mengamalkan taqiyyahterkhusus ketika melalui situasi-situasi yang sulit. Maka dari itu, waspadalah selalu dari kelompok Syiah, wahai kaum muslimin!

Bagaimana pun besarnya makar dan tipu daya Syiah terhadap Islam, Allah subhanahu wa ta’ala akan tetap menjaganya. Oleh karena itu, hal ini jangan menjadikan kaum muslimin ragu terhadap agamanya. Yakinlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menghancurkan, membongkar, dan membalas makar mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya itu.” (al-Anfal: 30)

Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan. Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar.” Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui.” (an-Naml: 48—52)

Sumber : asysyariah.com

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »

Kajian Ustadz Mukhtar

Posted by kajianbogor pada Maret 11, 2016

Insya Alloh dengan mengharap Ridho Alloh akan diadakan kajian ustadz Abu Nashim Mukhtar Hafidzahulloh
Berikut Pampletnya:

IMG-20160310-WA0006

 

 

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »

Update Jadwal Kajian Bogor Kota

Posted by kajianbogor pada Februari 9, 2016

☀ بِـــــسْمِ اللّٰــهِ الرَّحْمَـــنِ الرَّحِيْــــمِ ☀
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

——————
🌷 Alhamdulillah, jadwal kajian bertambah,.
📄✒ Manfaatkan kesempatan ini untuk menuntut ‘ilmu syar’i, mengambil faedah dari asatidzah ahlussunnah…
••••••••••••

📅 Jadwal Kajian Ilmiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah.
🏠 Bertempat di Masjid Ar-Rohman, Jl. Achmad Sobana Bangbarung Raya, Bantarjati-Bogor.
___________

✔Jadwal Kajian, Setiap SABTU Pekan ke-1 s.d Pekan ke-3 (SABTU Pekan ke-4 LIBUR).
🕓 Mulai ba’da ‘ashar/pukul 16.00 WIB s.d menjelang maghrib :

1⃣ Pekan ke 1: Ustadz Abu ‘Ubaidah ‘Abdurrahman حفظه الله (Cileungsi).
📚 Kitab Tauhid~Mulakhos fii Syarhi Kitabut Tauhid (asy-Syaikh Fauzan).

2⃣ Pekan ke 2: Ustadz ‘Abdullah al-Jakarty حفظه الله (Jakarta).
📚 Kitab Fiqih~Manhajus Saalikin (Imam as-Sa’di).

3⃣ Pekan ke 3: Ustadz Dzulqarnain Abu ‘Umar as-Sundawy حفظه الله (Cileungsi).
📚 Kitab Aqidah~Mu’taqod ash-Shahih (asy-Syaikh ‘Abdussalam bin Barjas).

– – – – – – – – – –

✔Jadwal Kajian, setiap AHAD Pekan ke-1 s.d Pekan ke-4.
🕙 Mulai pukul 10.00 WIB s.d menjelang zhuhr :

1⃣ Pekan ke 1: Ustadz Hamam Ridho حفظه الله (Cibinong).
📚 Kitab Aqidah~Syarh Syarhus Sunnah lil Imam al-Muzani (asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri).

2⃣ Pekan ke 2: Ustadz ‘Abdurrahman Mubarok حفظه الله (Cileungsi).
📚 Kitab Manhaj~Ushulus Sunnah (Imam Ahmad bin Hanbal).

3⃣ Pekan ke 3: Ustadz ‘Abdusysyakur al-Bughury حفظه الله (Cileungsi).
📚 Kitab Hadits~Arba’in an-Nawawi (Imam an-Nawawi) & Kitab Fiqih~Shifat Shalat Nabi (asy-Syaikh al-Albani).

4⃣ Pekan ke 4: Ustadz ‘Abdulloh al-Bughury حفظه الله (Cileungsi).
📚 Kitab Mukhtasor Minhajul Qoshidin (Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi).

__________________________________________
ℹ Disebarkan oleh :
❄ WA Ahlussunnah Bogor [ASB] ❄
🌏 Info kajian ahlussunnah bogor di :
http://www.kajianbogor.wordpress.com
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
.: بـَارَكَ اللّٰــهُ فِيْـكُمْ :.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – -⁠⁠⁠⁠

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »

Download Kitab Syarhussunnah Imam Al Muzani

Posted by kajianbogor pada Januari 4, 2016

Cover
syarhussunnah_muzani1

 

 

 

 

 

 

 

Download PDF
syarhus-sunnah_al-muzani

Posted in Download Kitab | Leave a Comment »

Download Kitab Syarah Minhajul Qosidin

Posted by kajianbogor pada September 4, 2015

Alhamdulillah bagi yang membutuhkan untuk bahan talim ahad pagi.
mukhtasor-minhajul-qashidin_syawisy

 

 

 

 

 

 

 

Download pdf.
mukhtasor-minhajul-qashidin_syawisy

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »

Syaikh MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AN-NAJDI BUKANLAH KHAWARIJ (bag.1)

Posted by kajianbogor pada April 20, 2015

Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Pendahuluan

Banyak tuduhan yang dialamatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa beliau adalah khawarij orang yang suka mengkafirkan muslim, memberontak kepada penguasa muslim, dan tuduhan keji lainnya.

Berikut ini adalah sedikit tulisan pembelaan terhadap beliau, sebagai bentuk penyampaian amanah ilmiyah, dan untuk membela saudara muslim dari kedzhaliman. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah banyak terdzhalimi dengan tuduhan-tuduhan palsu itu. Sebagian saudara kita kaum muslimin ada yang juga menyebar tuduhan-tuduhan itu tanpa ilmu. Mereka sekedar ikut-ikutan saja. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah melakukan kedzhaliman. Maka penjelasan yang mengklarifikasi kedustaan tuduhan tersebut, semoga terhitung di sisi Allah sebagai bentuk pertolongan kepada sesama saudara muslim.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Dari Anas (bin Malik) radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia mendzhalimi ataupun terdzhalimi. Seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, saya (bisa) menolongnya jika ia terdzhalimi. Bagaimana jika ia berbuat kedzhaliman, apa yang bisa saya tolong terhadapnya? Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: engkau halangi dia dari kedzhaliman, itu adalah pertolonganmu (H.R al-Bukhari)

InsyaAllah pada tulisan di bawah ini, akan ditunjukkan sedikit bukti-bukti yang membedakan secara jelas antara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan pemikiran khawarij, yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip yang beliau pegang teguh dan ajarkan sangat bertolak belakang dengan pemikiran Khawarij. Akan disebutkan kutipan-kutipan pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam karya-karya (tulisan) beliau.

Berbeda dengan Khawarij dalam Menyikapi Pelaku Dosa Besar

Salah satu prinsip Khawarij adalah menganggap kafir seorang muslim yang melakukan dosa besar. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah demikian. Beliau tidaklah mengkafirkan orang kecuali yang memang kafir. Beliau tidak menyatakan musyrik kepada seseorang kecuali orang itu memang musyrik. Jangan sampai seorang muslim menghindar dari pemikiran Khawarij, namun terjatuh ke dalam pemikiran Murji’ah yang tidak mengkafirkan pihak-pihak yang telah jelas kekafirannya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah demikian. Beliau bukan Khawarij juga bukan Murji’ah. Beliau tidak gegabah dalam mengkafirkan seseorang yang masih muslim, sebaliknya beliau juga mengikuti dalil-dalil dalam al-Quran dan Sunnah Nabi dalam mengkafirkan perbuatan atau pihak yang dikafirkan. Apa yang dikafirkan oleh al-Quran dan Sunnah Nabi dengan pemahaman para Sahabat Nabi maka beliaupun mengkafirkannya. Apa yang dinyatakan sebagai sebuah kesyirikan dalam dalil al-Quran dan Sunnah Nabi dengan pemahaman para Sahabat Nabi, maka itulah yang beliau nyatakan pula sebagai kesyirikan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyatakan:

أن الخوارج يكفرون من زنى أو من سرق أو سفك الدم بل كل كبيرة إذا فعلها المسلم كفر وأما أهل السنة فمذهبهم أن المسلم لا يكفر إلا بالشرك ونحن ما كفرنا الطواغيت وأتباعهم إلا بالشرك

Sesungguhnya Khawarij mengkafirkan orang yang berzina, atau mencuri, atau menumpahkan darah. Bahkan setiap dosa besar jika dilakukan seorang muslim maka ia menjadi kafir (menurut Khawarij). Sedangkan madzhab Ahlussunnah adalah bahwa muslim tidaklah dikafirkan kecuali dengan kesyirikan. Dan kami tidaklah mengkafirkan para Taghut dan pengikut mereka kecuali karena kesyirikan (ar-Rosaa-il asy-Syakhshiyyah (hal 233), Muallafaat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1/233))

Berbeda dengan Khawarij dalam Bersikap Mendengar dan Taat kepada Pemimpin Muslim

Khawarij selalu merongrong kewibawaan pemerintah muslim dengan ucapan atau perbuatan. Mereka tidak mau bersikap mendengar dan taat kepada pemerintah muslim meski dalam hal yang ma’ruf (tidak bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya). Padahal Nabi shollallahu alaihi wasallam sangat menekankan kepada kita kaum muslimin agar bersikap mendengar dan taat kepada pemimpin muslim (dalam hal yang ma’ruf) meski pemimpin itu adalah budak dari Habasyah (Ethiopia):

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan bersikap mendengar dan taat meskipun dia adalah budak dari Habasyah (Ethiopia) (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjadikan prinsip ini, yaitu bersikap mendengar dan taat kepada Waliyyul Amr (pemimpin/ pemerintah) muslim sebagai salah satu dari 6 landasan yang beliau tulis dalam risalah al-Ushulus Sittah:

الأصل الثالث :أن من تمام الاجتماع السمع والطاعة لمن تأمر علينا ولو كان عبداً حبشياً ، فبين الله هذا بياناً شائعاً كافياً بوجوه من أنواع البيان شرعاً وقدراً ، ثم صار هذا الأصل لا يعرف عند أكثر من يدعي العلم فكيف العمل به.

Landasan yang ketiga: Bahwasanya di antara kesempurnaan bersatu (dalam Dien) adalah bersikap mendengar dan taat kepada pemimpin kita meskipun dia adalah budak dari Habasyah (Etiopia). Allah menjelaskan ini dengan penjelasan yang terang dan mencukupi dengan berbagai bentuk penjelasan secara syar’i maupun qodari. Kemudian (yang terjadi justru) landasan ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku berilmu. (Kalau diketahui saja tidak), maka bagaimana mau beramal? (al-Ushuulus Sittah)

Risalah Ushulus Sittah adalah tulisan ringkas tentang 6 landasan yang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak ditentang oleh musuh-musuh dakwahnya, padahal keenam landasan itu sudah sangat jelas dan banyak dalil dalam al-Quran dan as-Sunnah dengan penjelasan yang terang benderang, namun masih banyak pihak yang keliru dalam memahaminya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menuliskan sikap mendengar dan taat kepada pemimpin muslim dalam hal yang ma’ruf itu sebagai landasan yang ke-3. Hal ini sangat jelas menunjukkan perbedaan beliau dengan pemikiran Khawarij.

Posted in Artikel Islam Ilmiyah | 1 Comment »

Info Dauroh Terbaru (Ust. Mukhtar)

Posted by kajianbogor pada Maret 23, 2015

IMG-20150307-WA0005

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »

Update Jadwal Ta’lim Bogor

Posted by kajianbogor pada Desember 29, 2014

================ TA’LIM HARI SABTU ======================
Tempat         : Masjid Jam’i Ar Rohman Bantar Jati

Pekan I

Waktu          : 16.00 – 17.00
Pembicara    : Al Ustadz Fauzan
Kitab          : Aqidah (Al Qowaid)

Pekan II

Waktu          : 16.00 – 17.30
Pembicara    : Al Ustadz Abdullah Al Jakarty
Kitab         : Syarhus Sunnah lii Imam Al Barbahary dan Min Akhthoi Jauzaat

Pekan III

Waktu         : 16.00 – 17.30
Pembicara    : Al Ustadz Dzulqarnain Abu Umar

=============== TA’LIM HARI AHAD ===================

Hari : Setiap Ahad Pekan 1,2,3 Pekan 4
Tempat         : Masjid Jam’i Ar Rohman Bantar Jati
Pukul 10.00 s.d 11.30

Pekan I

Materi        : Kitab At Tauhid
Pembicara : Ustadz Abdurrahman Mubarrak

Pekan II
Materi         : Fiqh
Pembicara  : Ustadz Fahmi Jawwas

Pekan III
Materi         : Arbain An Nawai & Sifat Sholat Nabi
Pembicara  : Ustadz Abdussyakur

Pekan IV
Materi         : Kitab At Tauhid
Pembicara  : Ustadz Abu Fadl Fauzan Sukabumi

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »

Info Muhadhoroh Sabtu, 17 Mei 2014

Posted by kajianbogor pada Mei 13, 2014

Bogor Kota

denah

Posted in Jadwal Kajian | Leave a Comment »